9 Masalah akan selalu ada. Namun kamu akan semakin kuat untuk menghadapinya hari demi hari. 10. Kalau tiba-tiba kamu jadi gampang banget menghakimi diri sendiri dan orang lain, coba deh tanya sebenarnya prinsip apa yang sedang kamu pegang. Itulah berbagai quotes dari buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson. Seniuntuk Bersikap Bodo Amat menawarkan sebuah sudut pandang baru dengan cara penyampaian yang lucu dan menyenangkan namun juga padat berisi. Pendapatnya pun didukung dengan beberapa riset akademis, buku ini juga beberapa kali mengutip beberapa pemikiran populer dari tokoh terkenal dan filsuf seperti Albert Camus dan Buddha yang diselingi Judulbuku: Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Judul asli buku:The Subtle Art Of Not Giving A F*ck Pengarang: Mark Manson Penerbit: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia Dalam novel "Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat" ini ada 3 seni yang menggambarkan bagaimana seseorang tersebut memang harus bersikap bodo amat akan sesuatu hal. IdentitasBuku. Judul: Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Judul Asli: The Subtle Art of Not Giving a Fuck. Nama Penulis: Mark Manson. Penerbit: Grasido (Gramedia Widiasarana Indonesia) Tahun Terbit: 2019 januari (cetakan XVIII) Harga buku: Rp67.000.00 (p.jawa) Kategori: self improvement. ISBN: -6. Judul: Sebuah seni untuk bersikap bodo amat. Penulis : Mark manson. Penerjemah :F.wicaksono. Tahun terbit :2018. Tebal buku :246 halaman. Buku ini menceritakan tentang Harles Bokowski seorang pecandu alkohol senang bermain perempuan,pejudi kronis,kasar,kikir,dan tukang utang.Ia bercita-cita menjadi seorang selalu di SebuahSeni Untuk Bersikap Bodo Amat. Karya Mark Manson, 2016. Hidden Tesla. Full PDF Package. This Paper. A short summary of this paper. 9 Full PDFs related to this paper. 9s1mC. Judul Asli The Subtle Art Of Not Giving F*ck Judul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat Penulis Mark Manson Penerjemah F. Wicaksono Penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia Cetakan ke-3 Tahun Terbit 2018 Tempat Terbit Jakarta ISBN 978-602-452-698-6 Tebal 246 halaman Harga Rp Rating ⭐ Awal membaca judul buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat atau The Subtle Art Of Not Giving F*ck, saya langsung mengerutkan kening dan berpikir bahwa buku ini memakai kata-kata yang cenderung vulgar, kasar f*uck, dan tidak memberi nilai-nilai dan pengaruh yang baik dalam diri. Lantas apa yang membuat buku tulisan Mark Manson tahun 2016 ini dikategorikan ke dalam buku terlaris versi New York Times dan Globe and Mail? Ketika saya menjelajahinya, saya baru menemukan jawabannya. Saya mendapati nilai-nilai kehidupan yang selama ini saya cari dan/atau nilai yang sebenarnya saya rasakan tetapi saya menolak untuk menyadari dan bahkan berusaha untuk mengingkarinya. Kesan itulah yang saya dapatkan dari membaca buku tersebut dan membuat saya ingin berbagi secuil dengan Anda, sahabat blogger. 😊 Judul buku ini menarik dan anti mainstream. Mungkin itu salah satu daya tarik yang membuat orang-orang termasuk saya berminat membacanya. Amat jarang bukan, terdapat buku yang membahas tentang sikap bodo amat. Beberapa buku self improvement justru menyarankan kita untuk selalu peduli, peduli terhadap sesama manusia, peduli terhadap lingkungan, peduli dengan berita yang sedang viral dan hangat dibicarakan agar tidak tertinggal, dan sebagainya. Akan tetapi, buku ini justru mengajak kita untuk bersikap bodo amat. Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat merupakan sebuah buku tentang menemukan apa yang benar-benar penting bagi kita dan melepaskan segala hal lainnya. Saat ini masyarakat menjadikan media sosial sebagai ajang pamer. Kemudian dari hal tersebut lahirlah generasi manusia yang percaya bahwa memiliki pengalaman negatif rasa cemas, takut, bersalah adalah sesuatu yang sangat tidak baik. Ketika melihat feed Facebook, kita akan menjumpai bahwa setiap orang di sana menjalani saat yang menyenangkan sehingga seakan-akan kita akan merasa dibombardir dengan 350 gambar orang-orang yang benar-benar gembira, seperti menikah, berlibur, dan sebagainya. Sementara itu, kita terjebak di rumah. Kita mau tidak mau berpikir bahwa hidup kita sepuluh kali lebih menyebalkan dari yang semua kita kira. Pada akhirnya, kita merasa bersalah atas rasa salah itu sendiri. Kita jadi marah gara-gara amarah yang menyulut. Lalu apa yang salah dengan diri kita? “Inilah mengapa, bersikap masa bodoh, adalah kuncinya. Inilah alasan mengapa itu menyelamatkan dunia. Dan kuncinya adalah jika kita bisa menerima bahwa dunia ini benar-benar keparat dan itu tidak apa-apa, karena memang seperti itu, dan akan seperti itu adanya. Dengan tidak ambil pusing ketika Anda merasa buruk, berarti Anda memutus Lingkarang Setan; Anda berkata pada diri sendiri, Saya merasa sangat buruk, tapi terus kenapa! Apa pedulimu? ” –hlm 9 Lebih lanjut, Manson memaparkan yang dimaksud dengan bodo amat. “Masa bodo atau bodo amat artinya memandang tanpa gentar tantangan yang paling sulit dalam kehidupan dan mau mengambil suatu tindakan.” -hlm 14 Kematian menjadi alasan mendasar mengapa kita harus bodo amat. Kita dan setiap orang yang kita kenal akan meninggal suatu saat nanti. Dan dalam waktu yang singkat itu perhatian yang kita miliki terbatas dan sangat sedikit. Oleh karena jika kita memedulikan setiap hal dan setiap orang tanpa pertimbangan atau pilihan yang matang maka hidup kita tentu akan kacau. Kekuatan buku ini terletak pada isinya. Isinya sangat padat dan terkesan nyleneh, tidak seperti buku pengembangan diri pada umumnya. Ketika membaca buku pengembangan diri, kita akan termotivasi dan merasa baik. Namun, berbeda saat membaca buku Manson, kita akan dibuat tertawa, mengernyitkan dahi, mendengus, dan mungkin menangis. Marson mempercayai tentang hukum berkebalikan milik filsuf Alan Wates. Menginginkan pengalaman positif adalah sebuah pengalaman negatif, menerima pengalaman negatif adalah sebuah pengalaman 10 Inti dari ungkapan tersebut adalah semakin kita berusaha semakin baik setiap saat, kita justru akan merasa semakin tidak puas karena mengejar sesuatu hanya akan meneguhkan fakta bahwa pertama-tama kita tidak baik. Marson memberi contoh ketika kita semakin mati-matian berusaha ingin kaya, kita justru akan merasa semakin miskin dan tidak berharga. “…..filsuf eksistensial Albert Camus mengatakan, Anda tidak akan pernah bahagia jika Anda terus mencari apa yang terkandung di dalam kebahagiaan. Anda tidak akan pernah hidup jika terus mencari arti kehidupan. Atau dengan kata lain Jangan berusaha.” -hlm 11 Seperti yang saya katakan sebelumnya, buku ini anti mainstream. Jika kita pernah membaca buku pengembangan diri, kita sering menjumpai kata-kata bahwa Anda istimewa!’, Tetaplah menjadi pribadi yang positif!’, Anda luar biasa!’, Jangan Menyerah!’, dan seterusnya. Sebaliknya, di buku Manson kita akan disuguhkan dengan kata-kata yang mungkin tidak ingin kita dengar dan mengakuinya bahwa Anda tidak istimewa!’, Jangan berusaha!’, Kebahagiaan itu masalah’, dan lain-lain. Selain itu, dalam buku-buku self-improvement juga sering kali kita jumpai mengenai kiat-kiat untuk hidup bahagia dan sukses. Di buku ini, kita akan mendapati hal yang sebaliknya, kita akan ditampar dengan pertanyaan yang tidak pernah disadari sebagian besar orang. Bukan pertanyaan Apa yang ingin Anda raih dalam kehidupan ini?’ melainkan pertanyaan, Rasa sakit apa yang Anda inginkan dalam hidup Anda?’, Rasa sakit apa yang ingin Anda tahan?’, Apa yang membuat Anda berjuang?’, Derita apa yang ingin Anda hadapi?’. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu penting karena akan menjadi apa hidup kita nantinya. Inilah pertanyaan yang dapat mengubah sebuah sudut pandang, sebuah kehidupan. Inilah yang menentukan pribadi kita dan yang membedakan kita, serta yang pada ujungnya menyatukan lagi kita semua. Manson mencontohkan rasa sakit atau penderitaan yang dimaksud, seperti adanya kenyataan bahwa sebagian besar orang ingin mendapatkan posisi puncak di perusahaan dan mendapatkan banyak uang namun tidak banyak orang bersedia menderita selama 60 jam minggu kerja, perjalanan pergi pulang kantor yang jauh, dan berkas kerja yang memuakkan. Pada kenyataannya jalan setapak menuju kebahagiaan adalah jalan yang penuh dengan tangisan dan rasa malu. “Anda harus menentukan pilihan. Anda tidak mungkin memiliki hidup yang bebas dari rasa sakit. Hidup tidak bisa selalu mekar seperti mawar, dan fantastis seperti unicorn. Pertanyaan tentang kenikmatan tergolong mudah karena hampir semua orang punya jawaban serupa”. -hlm 44 Lebih dari sekedar buku panduan praktis untuk memilih mana yang harus diprioritaskan dalam hidup. Di buku ini, saya juga menemukan realitas yang sangat jujur, tidak mengenai kebahagiaan, melainkan rasa sakit, ketakutan, harapan, dan kepastian yang kita terima untuk sukses dan bahagia. Manson menarik kita keluar dari khayalan dan penyangkalan. Dia memaksa kita untuk tidak hanya melihat dan bersembunyi dari kepahitan, tetapi juga menerimanya. Seperti pembahasan mengenai berfikir positif. Dalam bukunya, Mark memasukkan sikap tetap berpositif ke dalam nilai-nilai sampah. “Meskipun ada sebuah ungkapan apa pun yang terjadi, tetaplah optimis, sejatinya, kadang hidup menyebalkan dan hal paling sehat untuk dilakukan adalah mengakuinya”.-hlm 98 Tidak sedikit orang yang mengukur hidupnya dengan sejauh mana mereka mampu untuk selalu berpikir positif, seperti ketika kehilangan pekerjaan. Kita berpikir ini bagus dan peluang untuk mengeksplorasi bakat dan minat. Begitupun ketika suami selingkuh. Kita akan berpikir bahwa ini sebagai pembelajaran kalau suami sangat berharga. Manson mengatakan “Saat kita memaksa diri kita untuk tetap positif sepanjang waktu, kita mengingkari kalau keberadaan masalah itu. Dan ketika kita menyangkal masalah kita, kita menihilkan kesempatan kita untuk menyelesaikan masalah dan menjadi bahagia. Permasalahan membuat hidup kita lebih bermakna dan penting. Karena itu menghindari masalah justru menuntun kita kepada suatu kondisi yang hampa makna bahkan meskipun di satu sisi menyenangkan”.- hlm 100 Perlu diketahui bahawa buku self improvement ini diperuntukkan untuk kalangan dewasa 17+ karena ciri khas gaya bahasa Manson yang memang terkesan kurang sopan dan tidak sepatutnya dibaca anak-anak. Selain itu, bahasannya juga cukup berat, mengenai permasalahan orang dewasa yang cukup kompleks. Manson menggunakan sudut pandang yang tidak biasa sehingga jika tidak benar-benar memahami maksud sebenarnya, kita akan mengalami sesat pikir. Namun, jangan khawatir, Manson membungkus tulisannya yang mendalam dan berat dengan cerita humor yang cadas dan menghibur. Ia juga membagikan pengalaman dirinya sendiri dan tokoh-tokoh. Hal itu semata-mata agar dapat membantu para pembacanya memahami tulisannya. Adapun kelemahan dari buku ini adalah beberapa sub-bab bahasan tidak ada klimaks alias kurang mendetail. Selain itu, juga terdapat struktur bahasa yang kurang bagus red. terjemahan dan kesalahan penulisan typo—mengingat buku yang saya pegang sudah cetakan ke-3—sehingga mengganggu kenyamanan pembaca. Kemudian, jika sebelumnya Anda membaca buku lain mengenai pengembangan diri, Anda akan menjumpai kertas yang berwarna-warni, gambar, atau ilustrasi yang berkaitan dengan materi. Akan tetapi, dalam buku ini tidak ada, padat tulisan sehingga hal itu dapat membuat jenuh saat membacanya. Terlepas dari kekurangannya, buku ini sangat cocok bagi Anda yang susah untuk fokus, terlalu memikirkan perkataan orang lain, takut salah, takut mengambil resiko, terlalu peduli dengan masalah orang lain hingga membuat Anda jatuh dan depresi. Membaca dan memahami buku ini akan membantu Anda untuk melihat suatu masalah dari sudut pandang berbeda. Selain itu, buku ini juga saya rekomendasikan untuk orang-orang yang hidupnya terbilang baik-baik saja dan aman. Keluarlah dari lingkaran setan Anda dan menjadi lebih bijak dalam menjalani kehidupan! Pada akhirnya, seperti kata Manson, “Buku ini tidak akan mengajari Anda bagaimana cara mendapat atau mencapai sesuatu, namun lebih pada bagaimana cara berlapang dada dan membiarkan sesuatu pergi. Ini akan mengajari Anda untuk membuat investaris kehidupan Anda dan menyortir hal-hal yang paling penting saja. Ini akan mengajari Anda untuk memejamkan mata dan percaya bahwa Anda bisa menjatuhkan diri ke belakang dan tetap baik-baik saja”. -hlm 24. Apakah buku ini hanya sekedar bualan? Saya berharap Anda dapat menemukan jawabannya. Selamat membaca dan selamat menyelami rasa sakit Anda! 🙂 Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. SEBUAH SENI UNTUK BERSIKAP BODO AMATJudul asli The subtle art not giving f*ckJudul Sebuah seni untuk bersikap bodo amatPenulis Mark mansonPenerjemah terbit 2018Tebal buku 246 halamanBuku ini menceritakan tentang Harles Bokowski seorang pecandu alkohol senang bermain perempuan,pejudi kronis,kasar,kikir,dan tukang bercita-cita menjadi seorang Bukowski selalu di tolak oleh hampir setiap majalah,tetapi hal tersebut tidak membuat nya menyerah ia tetap menulis dan membuat puisi. Tumpukan kertas-kertas semakin menggunung yang berisi penolakan,cacian,tentang puluh tahun berjalan tanpa arti hampir seluruh waktunya dalam bayang-bayang alkohol,narkoba,judi,dan pelacuran,hingga pada usia 50 tahun seorang editor di sebuah penerbitan menaruh minat yang aneh terhadap dirinya. Sampai akhirnya ia sukses dengan judul novel pertama post office 'Didedikasikan untuk tak seorang pun'. Popularitasnya melampaui harapan setiap orang. Walaupun ia sudah sukses ia tetap menjadi dirinya sendiri minum alkohol,menggunakan narkoba,main perempuan dan lain sebagainya. Sukses tidak mengubah hidupnya menjadi pribadi yang lebih cuek dan masa bodoh adalah cara sederhana untuk mengrahkan kembali ekspetasi hidup dalam memilih apa yang penting karna pada intinya hidup hanyalah rentetan masalah yang tidak ada ujungnya. Novel ini adalah kisah nyata dari hidupnya yang selalu di terpa oleh kencangnya badai dan karena itulah ia menjadi semakin kuat dalam meraih mengapa bersikap bodo amat adalah kunci untuk menyelamatkan diri dan dunia,dengan tidak mengambil pusing ketika mempunyai masalah dan merasa buruk. Itu artinya kamu sudah memutus lingkaran juga menjadi alasan kenapa kita harus bersikap cuek dan bodo amat karena kita dan orang yang kita kenal akan meningal suatu saat karena itu jika kita memperdulikan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang maka hidup kita akan dari novel ini yaitu judul yang sangat menarik dan isi yang sedikit absurd atau nyeleneh tetapi menginspirasi dan membuat siapapun yang membacanya akan berfikir dua kali jika akan melakukan sesuatu karena teringat kembali beberapa penggalan kalimat atau kata yang berada didalamnya. Kekurangan nya terdapat kalimat yang tidak dimengerti dan terdapat sub-bab yang bahasan nya kurang komplit atau tidak klimaks. Lihat Hobby Selengkapnya Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, buku ini pertama kali saya lihat di akun instagram yang saya ikuti, dan saat itu pula saya mulai jatuh hati dengan buku yang bersampul orange tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk membelinya. Mungkin kita akan bertanya bagaimana seni untuk bersikap bodo amat? Atau sedikit sinis dan berkata masa bersikap bodoh amat saja harus pakek seni!, mungkin juga kita akan berkata ada-ada saja, secara alamaiah bersikap bodo amat memang tidak perlu pake seni, dan semua orang bisa melakukannya, tapi bagaimana seni dalam bersikap bodo amat menurut mark manson? Ya memang sedikit unik, dan pasti akan diluar ekspektasi kita semua. Berikut adalah resensi buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat Mark Manson adalah seorang penulis blog yang sukses meraih dua juta pengunjung setiap bulannya, penulis mulai aktif sebagai blogger sejak tahun 2009. Kesuksesannya ini berlanjut dengan diterbitkannya buku yang berjudul The Subtle Art of Not Giving a F*ck yang menjadi buku best seller, dan akhirnya disadur kedalam bahasa indonesia yang diterbitkan oleh Gramedia dengan judul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Sampai saat ini buku ini telah dicetak ulang sampai cetakan yang ke-20 dua puluh. Sebuah seni untuk bersikap bodo amat, bukan berarti buku ini mengajak para pembaca untuk bersikap demikian, namun sebaliknya Mark Manson memberitahu kita persoalan apa yang betul-betul perlu dipikirkan dan masalah apa yang hanya perlu disikapi dengan rasa bodoh amat, oleh sebab itu diperlukan sebuah seni untuk cuek terhadap hal-hal yang tidak penting tersebut. Baca Juga Resensi Buku Islam dan Sosialisme HOS Tjokro Aminoto Manusia tidak akan pernah bisa hidup sendiri, oleh sebab itu terdapat banyak sekali interaksi yang akan kita lakukan dengan orang-orang yang berkaitan dengan kehidupan kita, baik orang yang kita kenal atau orang yang bahkan tidak kita kenal mereka akan memiliki pandangan tersendiri terhadap suatu hal, perbedaan-perbedaan tersebut akan memicu munculnya banyak persoalan, dan jika kita terlalu banyak memperhatikan setiap hal dan setiap orang tanpa adanya pertimbangan yang matang tentu akan membuat kita semakin kacau. Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat [Sumber Gambar diolah dari Buku ini memberi kita seni dan pendekatan yang waras untuk menjalani hidup yang lebih baik dengan tiga seni bersikap bodo amat pertama, masa bodo bukan beranti acuh tak acuh, merasa bodo amat berarti hanya peduli pada tujuan yang hendak kita capai dan bersikap acuh tak acuh pada halangan dan rintangan yang mungkin akan dihadapi, dan selanjutnya menikmati setiap permasalahan itu, karena setiap tujuan besar pasti aka nada cobaan dan rintangan yang siap menghadang. Seni kedua, yaitu memperjelas hal-hal penting untuk diperioritaskan sehingga kita bisa bersikap bodo amat pada hal-hal yang dirasa sangat sepele. Dan seni ketiga adalah, menyederhanakan perhatian kita pada saat mulai dewasa, melupakan hal-hal yang kurang berarti untuk kehidupan, dan mulai hal-hal penting untuk diperhatikan, karena disadari atau tidak, kita akan memperhatikan terlalu banyak hal mulai dari warna kulit, model pakaian, persepsi orang, dan sebagainya membuat hidup kita kurang nyaman, oleh sebab itu diperlukan penyederhanaan pada hal-hal penting yang memang perlu kita perhatikan. Walaupun terlihat sederhana, ini dapat membuat kita tetap bahagia. Baca Juga Guru Goblok Ketemu Murid Goblok Mark manson mengulas sesuatu yang menurut saya sangat menarik, dimana dia mencontohkan jika kita selalu mengejar kekayaan, hal itu akan membuat kita tidak akan pernah kaya. Sepintas kalimat ini terasa tidak masuk akal, bagaina bisa orang yang terus mencari kekayaan disebut sebagai orang yang tidak akan pernah kaya? Namun jika kita cerna lebih jauh lagi, ternyata yang dikatan mark manson sepenuhnya benar, karena orang yang tidak pernah mensyukuri apa yang telah dimiki tidak akan mungkin bisa merasa puas, dan hal ini akan membuat kita tetap menjadi orang miskin, dalam arti yang sesungguhnya. Buku ini akan menampar kita dengan ungkapan-ungkapan diluar persepsi orang pada umumnya, seperti ketika banyak orang banyak menanyakan “apa yang ingin kita raih dimasa depan?” mark manson justru bertanya tentang “rasa sakit apa yang ingin kita hadapi dalam hidup!”, menurutnya hal ini penting untuk menentukan bagaimana kita dimasa depan. Hal ini dipertegas dengan pemisalan dimana banyak orang menginginkan berada dalam puncak karier, namun sedikit sekali orang yang sadar tentang bagaimana rasa sakit, dan penderitaan yang dialami orang tersebut, lembur, bos yang menjengkelkan, tugas yang terlalu banyak, sulitnya mencari modal untuk usaha mandiri, dan lain-lain. Review Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat Mark Manson menguraikan gagasan dan argumennya dengan jelas, dan diperkaya dengan cerita-cerita yang telah di alami sebelumnya dalam hidupnya, ditambah dengan beberapa kisah para tokoh yang barang kali akan membuat kita tercerahkan dan baru merasa “engeh” dengan fakta-fakta yang sebenarnya telah kita lihat sebelumnya. Buku ini akan membantu kita melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Kelemahan dari buku ini adalah terdapat kalimat yang tidak seharusnya disampaikan dengan lugas, sehingga buku ini lebih baik dibaca oleh kalangan "17+", selain itu karena buku ini adalah buku terjemahan makan akan kita temukan beberapa kalimat yang kadang sedikit mengganjal, dan latar belakang kebudayaan yang berbeda membuat kita kadang tidak mengerti dengan ungkapan-ungkapan, atau peribahasa yang disampaikan dalam buku ini. Baca Juga Skill yang Harus Dimiliki Dimasa Depan Sebagaimana yang diungkapkan mark manson, buku ini tidak akan mengajari kita tentang bagaimana mencapai suatu tujuan, tetapi lebih kepada cara bagaimana bersikap lapang dada, iklas dan fokus pada hal-hal yang dianggap pengting bagi kehidupan kita. Buku ini cocok untuk kita yang baru menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi/SMK yang sedang menncari pekerjaan, atau orang-orang yang telah lelah berusaha membangun suatu usaha, dan siapa saja yang tertarik untuk bersikap bodo amat… Buku ini dapat dibeli dengan online ebook di Gramedia seharga Judul Asli The Subtle Art Of Not Giving F*ck Judul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat Pendekatan Yang Waras Demi Menjalani Hidup YangBaik Penulis Mark Manson Penerjemah F. Wicaksono Penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia Cetakan ke-20 Tahun Terbit 2019 Tempat Terbit Jakarta ISBN 978-602-452-698-6 Tebal 246 hlm + VII + 2 cover Harga Rp Bagi para pecinta buku, terutama yang gemar membaca buku pengembangan diri, mungkin sudah tidak asing lagi ketika mendengar judul buku yang satu ini. Temukan pula Rekomendasi Buku Pengembangan Diri Motivasi lainnya disini! Buku dengan judul yang cukup kontroversial ini memang telah menarik perhatian banyak orang dan membuatnya menjadi salah satu buku non-fiksi paling populer berdasarkan The New York Times serta Washington Post. Mungkin kamu pun akan bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan seni bersikap bodo amat yang disebutkan oleh penulis di dalam buku ini. Apa kita tidak boleh peduli kepada orang lain? Apakah bersikap egois adalah hal yang baik? Nah, agar tidak salah paham, simak ulasan buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat yang ditulis oleh blogger ternama, Mark Manson, berikut ini. Ulasan Buku Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat Bukannya ingin mengajak para pembaca untuk bersikap egois dan mementingkan diri sendiri dengan bersikap bodo amat, namun penulis justru ingin menunjukkan bahwa tidak semua hal di dunia ini cukup berarti untuk kamu pedulikan. Baca pula terkait Cara Mencintai Diri Sendiri. Melalui penulisannya yang lugas, di dalam buku ini Mark Manson akan membagikan pemikirannya mengenai cara hidup dengan hanya berfokus pada hal-hal tertentu yang penting dan bermakna bagi kehidupan, serta mengabaikan hal-hal yang tidak penting untuk dipermasalahkan. Dengan memberikan contoh berdasarkan pengalaman pribadi dan kisah dari tokoh-tokoh lain, seperti Charles Bukowski, Dave Mustaine, serta William James, penulis berharap bisa memberikan bukti nyata terkait gagasannya dalam bersikap bodo amat terhadap beberapa aspek dalam hidup. Menurut Manson, kunci kehidupan yang bahagia bukanlah tentang memedulikan lebih banyak hal, tetapi tentang peduli pada hal yang sederhana, hal yang mendesak, dan hal yang penting saja. Beberapa hal tidak penting yang seharusnya tidak perlu kamu pedulikan dijabarkan di dalam buku ini, yaitu di antaranya; pendapat buruk orang lain terhadap diri kamu, terutama jika menuntut kamu untuk berubah agar dapat diterima secara sosial; hal-hal yang menghalangi perjuangan dan menghambat kamu dalam berproses; hal-hal tidak bermakna dan bukan prioritas hidup; dan lain-lain. Dengan mengabaikan hal-hal tersebut, kamu pun bisa menikmati kehidupan dengan lebih leluasa melalui kebebasan menjadi diri sendiri, mampu menghadapi setiap tantangan serta masalah dalam hidup tanpa terlalu banyak tekanan, dan dapat hidup lebih bahagia dengan kesederhanaan akan hal-hal yang penting saja. Meskipun terdengar mudah, namun kemajuan teknologi yang mendorong semakin maraknya penggunaan media sosial saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi setiap orang untuk bisa menerapkan sikap bodo amat. Kemudahan akses terhadap berbagai informasi dan kemudahan dalam meninggalkan komentar serta kritik secara anonim membuat orang jadi cenderung memedulikan banyak hal dan sulit untuk menyaring hal-hal yang memiliki arti penting saja. Oleh karena itu, buku ini akan menjadi bacaan yang sayang untuk kamu lewatkan karena bisa membantu kamu melakukan refleksi diri dan memikirkan kembali apa saja hal-hal yang sebenarnya perlu kamu pedulikan. Dengan begitu, kamu tidak perlu lagi membebani pikiran kamu dengan terlalu banyak hal yang akan menguras tenaga, baik secara fisik maupun mental, dan membuat kamu jadi tidak bahagia. 3 Seni untuk Bersikap Masa Bodoh 1. Nyaman Saat Menjadi Berbeda Seni bersikap bodo amat pertama yang ditawarkan oleh Mark Marson, yaitu dengan merasa nyaman saat menjadi berbeda dengan orang lain. Hal ini bukan berarti kamu adalah orang yang tidak peduli terhadap orang-orang di sekitar, melainkan kamu bisa menjadi diri kamu sendiri dan tidak berusaha mengikuti orang lain secara terpaksa agar dapat diterima dalam pergaulan. Percayalah bahwa orang yang benar-benar peduli dengan kamu tidak akan menuntut kamu untuk berubah menjadi orang lain dan akan menerima diri kamu dengan apa adanya. Namun, jika kamu bertemu dengan orang yang sering kali memberikan komentar negatif dan bukan dengan tujuan yang baik, maka orang tersebut tidak layak untuk kamu dengarkan atau kamu pedulikan. Jangan membuang waktu serta tenaga yang kamu miliki untuk menghiraukan mereka dan jadilah nyaman dengan perbedaan yang kamu miliki. 2. Peduli terhadap Suatu Hal yang Jauh Lebih Penting daripada Kesulitan Mengalami kesulitan bisa dikatakan sebagai suatu hal yang tak terhindarkan ketika menjalani hidup. Oleh karena itu, janganlah berharap agar tidak pernah dipertemukan dengan masalah karena itu merupakan hal yang mustahil. Kamu tidak memiliki pilihan lain selain untuk menghadapinya. Salah satu cara yang bisa kamu lakukan agar tidak berfokus pada kesulitan yang kamu alami, yaitu dengan menemukan sesuatu yang jauh lebih penting dibandingkan kesulitan itu sendiri. Ingatlah hal-hal apa saja yang berarti dalam hidup kamu, impian-impian yang ingin kamu wujudkan, orang-orang yang kamu sayangi dan ingin kamu lindungi, tujuan besar yang ingin kamu capai. Dengan memedulikan suatu hal yang jauh lebih penting daripada kesulitan, kamu jadi bisa memfokuskan seluruh energi serta tenaga kamu pada hal-hal yang lebih produktif dan bukannya pada kesulitan yang sudah pasti tidak bisa kamu hindari. 3. Hanya Memilih Hal-hal yang Penting untuk Diperhatikan Ada terlalu banyak hal dalam hidup ini yang hanya akan membebani kamu jika kamu terlalu peduli pada segala hal. Memilih mana hal-hal yang penting untuk diperhatikan merupakan hak prerogatif kamu dalam menjalani hidup sebagai diri kamu sendiri. Menurut Mark Manson, seiring dengan bertambahnya kedewasaan seseorang, mereka akan jadi lebih selektif terhadap perhatian yang rela mereka berikan pada suatu hal. Entah itu keluarga, sahabat, pekerjaan, kesehatan, target hidup, atau nilai-nilai yang dianut, sudah menjadi tugas kamu untuk menentukan sendiri hal-hal apa saja yang penting dan berarti untuk diperhatikan dalam hidup kamu. Kamu bisa membaca dan memulai mempraktikkan sikap bodo amat ini dengan mendapatkan buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat di Bedah Buku “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” Buku – Sikap bodo amat atau biasa dikenal dengan istilah cuek, kerap kali dianggap tidak mau peduli, tak ingin memerhatikan, bahkan bisa saja enggan untuk bersepakat. Adakalanya juga memiliki rasa bodo amat diperlukan untuk lebih menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya, daripada berpikir terlalu susah tentang masalah A, hadapi dengan berani atau lebih baik cuek dengan persoalan tersebut dan cari solusi lainnya. Namun, siapa sangka dengan bersikap bodo amat malah mengantarkan kepada penjualan terbaik pada sebuah buku, hasil karya Mark Manson. Tentang Buku “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” Judul buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat "Pendekatan yang Waras Demi Menjalani Hidup yang Baik" Judul Asli The Subtle Art of Not Giving a F*ck A Counterintuitive Approach to Living a Good Life Jumlah halaman 256 terdiri dari 9 bab Pengarang Mark Manson Cetakan Lebih dari 32 kali Tahun terbit 2018 Penerbit Grasindo Gramedia Widiasarana Indonesia Harga buku Rp Alih Bahasa F. Wicakso Penyunting Adinto F. Susanto Mungkin sudah banyak yang mengulas atau meresensi buku best seller Mark Manson ini. Oleh karenanya, saya akan mereview buku sebuah seni untuk bersikap bodo amat secara garis besarnya saja. Singkat cerita mengenai buku ini berisi tentang bagaimana pengembangan diri kita untuk bisa lebih apa adanya, tidak terlalu muluk-muluk, dan berbahagia. Mungkin untuk dapat lebih menghargai diri dengan tidak perlu memusingkan hal-hal yang tidak penting. Bedah Buku “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” Saya berkesempatan untuk hadir di acara “Bedah Buku, Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” yang berlangsung di Gramedia Matraman, Jakarta Timur, pada hari Jumat lalu, tidak menyangka bahwa ternyata kupas tuntas buku ini cukup mendalam dengan narasumber yaitu Bapak Indra Gunawan Masman, MBA. Beliau yang pernah menjabat sebagai editor di Kompas Daily selama 11 tahun itu menyampaikan bahwa perkembangan dunia cetak ada penerbitan majalah, koran dan buku. Menurut pengamatannya dunia buku sedang menggeliat. Dunia buku lebih bagus daripada majalah dan koran. Sebab buku bisa bagus karena konten, multi platform, multi konten, multimedia, dan tidak perlu menggunakan iklan. Oleh karenanya bisa dikatakan tepat sasaran bagi Mark Mansion untuk menerbitkan sebuah buku yang telah best seller ini. Hmm, saya saja yang kelilingan di Gramedia Matraman antusias melihat jajaran buku dimana karya Mark Mansion ini dalam terjemahan bahasa Indonesia berada di “Buku Rekomendasi”, sedangkan dalam versi bahasa aslinya berada di rak “Best Seller Import Books”. Buku dalam versi bahasa asli berada di rak nomor 2 buku best seller Dalam buku terjemahannya berada di nomor 5, rak buku rekomendasi “Ciri-ciri buku yang laku yaitu buku yang menentang pakem, atau bisa dikatakan buku yang melawan hal-hal yang mainstream. Buku ini membawa hal yang negatif menjadi positif, sehingga jangan melulu harus positif. Intinya jangan menuntut seseorang menjadi orang yang berbeda,” terang Pak Indra. Pada kesempatan yang sama, hadir pula Mas Adinto yang merupakan editor dari buku terjemahan Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Editor akuisisi dari penerbit Grasindo ini menyampaikan kita harus lebih dewasa bahwa dalam pemilihan judul tidak selalu diidentikkan dengan nyentrik. Buku ini sangat spesial, baik pada saat serius menerangkan maupun humornya. Hal yang sependapat diungkapkan oleh Bapak Indra, bahwa dalam melihat judul buku ini bisa dibaca dengan teliti. Jangan langsung mengartikan bahwa bodo amat berarti apatis. Padahal bodo amat dalam buku ini tidak mengajarkan malas, tapi tetap semangat menjalani hidup. Jadi tetap fokus terhadap hal-hal prinsipil sehingga tidak selalu menyalahkan orang lain bila terjadi kegagalan. Dari hal di atas, saya pun menyimpulkan bahwa dalam melihat sebuah buku yang pertama kali tampak biasanya adalah judulnya, kemudian kita bisa meneliti lebih jauh kenapa judulnya seperti itu, latar belakang penulisnya, blurb belakang bukunya. Lalu gali mendalam mengenai isinya, ambil yang dapat dijadikan pelajaran bermanfaat sehingga tetap mendapat hikmah dari sebuah buku.

unsur intrinsik novel sebuah seni untuk bersikap bodo amat