Mind8TV #cirendeu #jawabarat Kampung Adat Sunda Desa CireundeuOn Action Indonesia kali ini mengajak kalian untuk menelusuri kampung cirendeu. Perkampungan y Yangjago bahasa sunda tolong ubah dong ke bahasa sunda yg baik dan letak geografis kampung adat cireundeukampung cireundeu berada di lembah gunung kunci, gunung cimenteng dan gunu B. Daerah 2 23.08.2019 15:43. Bahasa lampungnya mencari adalah jawab yang benar B. Daerah 2 16.10.2017 15:53. DiKampung Adat Cireundeu, dari 400 kepala keluarga (KK) yang tersebar di wilayah RW 10, ada 60 KK atau sekitar 240 jiwa masyarakat yang menjadi penganut Sunda Wiwitan. Mereka saling menghormati saudara yang tengah berpuasa, pun sebaliknya yang berpuasa pun menghargai yang tak berpuasa. TRANSFORMASINILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT CIREUNDEU Total View This Week15. Institusion. Universitas Pendidikan Indonesia . Author. Subject. HM Sociology Datestamp. 2016-08-19 01:53:13 Abstract : 84Pamekar Diajar BASA SUNDA Pikeun Murid SMASMKMAMAK Kelas XI I eu di handap aya wacana nu eusina medar ngeunaan hiji wewengkon nu ngaranna Kampung Cireundeu. Ieu wewengkon katelahna kampung adat, sabab pola kahi KampungAdat Cireundeu sendiri memiliki luas 64 ha terdiri dari 60 ha untuk pertanian dan 4 ha untuk pemukiman. Sebagian besar penduduknya memeluk dan memegang teguh kepercayaan Sunda Wiwitan hingga saat ini. Bahasa yang mereka gunakan untuk sehari hari adalah dengan menggunakan bahasa sunda wiwitan sebagai alat komunikasi antar manusia dan E5Xn04. Lokasi Kampung Adat CireundeuPetaKeunikan Kampung Adat Cireundeu1. Sejarah Cireundeu2. Kepercayaan3. Rasi sebagai Makanan Utama4. Puncak Salam5. Pintu Samping Rumah Menghadap Timur6. Semangat Gotong Royong dan Hidup Berdampingan7. Hutan di Cireundeu8. KesenianRecommended! Kampung Adat Cireundeu, menjadi salah satu destinasi wisata Kota Cimahi yang unik dan menarik. Foto Dede Diaz Abdurahman/GenPI Jabar Kampung Adat Cireundeu – Indonesia memiliki beragam kampung adat yang tersebar di setiap wilayahnya. Setiap daerah memiliki keunikan kampung adatnya. Termasuk kampung yang ada di Kota Cimahi Jawa Barat ini. Kampung Adat Cireundeu adalah sebuah kampung dengan luas 64 hektar. Terbagi 2 bagian; 60 hektar digunakan untuk pertanian dan 4 hektarnya untuk pemukiman. Warga di kampung ini konsisten dalam meyakini dan menjalankan ajaran kepercayaan turun temurun. Mereka melestraikan budaya nenek moyang mereka. Kampung adat sendiri bisa diartikan sebagai suatu wilayah di dalam kumpulan masyarakat adat yang mempunyai hak asal usul berupa hak mengurus wilayah dan mengurus kehidupan masyarakat hukum adatnya. Baca juga* Kasepuhan Ciptagelar, Pesona Pelosok Sukabumi Foto Dede Diaz Abdurahman/GenPI Jabar Kampung adat ini terletak di sebuah lembah yang diapit Gunung Kunci, Gunung Cimenteng, dan Gunung Gajahlangu. Secara administratif Cireundeu masuk wilayah Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat. Peta Keunikan Kampung Adat Cireundeu Lalu apa saja keunikan dan daya tarik kampung adat Cirendeu ini? Simak terus ya sampai selesai 🙂 1. Sejarah Cireundeu Asal kata Cireundeu berasal dari sebuah pohon bernama Rendeu’. Sudah bisa kamu tebak, di kampung ini terdapat banyak Pohon Rendeu. Adapun kegunaan atau khasiat dari Pohon Rendeu adalah bisa digunakan sebagai bahan obat herbal. Masyarakat setempat sering menggunakannya saat memerlukan. Sebelum dikenal sebagai kampung adat, Cireundeu dulunya adalah tempat pembuangan sampah warga Kota Cimahi. Baru di tahun 2007 Cireundeu mulai dikenal sebagai sebuah wilayah desa tradisional. Kampung Adat Cireundeu dikelola oleh pemerintahan lokal, RT dan RW. Yang merupakan tingkatan tertinggi di wilayah Cireundeu. Sedangkan secara tradisional Cireundeu memiliki orang yang dituakan’, disebut dengan Sesepuh. Kini Sesepuh Cireundeu sudah mencapai generasi ke-5. Kampung Adat ini memiliki luas 64 ha terdiri dari 60 ha untuk pertanian dan 4 ha untuk pemukiman. Bisa baca informasi lengkapnya di 2. Kepercayaan Salah satu prosesi upacara adat saat perayaan Syuraan Tahun Baru Saka 1 Sura. di Kampung Adat Cireundeu. Foto IG Masyarakat adat Kampung Cireundeu adalah bagian dari Sunda Wiwitan yang tersebar di daerah Cigugur-Kuningan-Cirebon. Kesemua mereka sebagian besar memegang teguh kepercayaan Sunda Wiwitan sampai sekarang. Agama leluhur yang mereka anggap sebagai sebuah agama besar. Dengan ajaran-arajan peduli terhadap alam dan sopan santun. Masyarakat adat Cireundeu memandang agama sebagai sebuah ageman pegangan. Menjadi tuntunan hidup, keselamatan, yang tidak bisa lepas dari pemaknaan budaya. Artinya ketika seseorang memeluk agama, maka ia sedang menjalankan dan memaknai budaya yang melekat pada agama yang dianut. Konsep agama Sunda Wiwitan yang dianut masyarakat adat Cireundeu, yaitu Tuhan yang disebut “Gusti Sikang Sakang Sawiji Wiji” atau di atas segalanya pencipta mereka. “Mulih Kajati Mulang Ka Asal”,setiap manusia akan kembali kepada Tuhan. 3. Rasi sebagai Makanan Utama Rasi, beras singkong, makanan khas di Kampung Cireundeu. Foto si_angeline Sejak tahun 1918, sebagian masyarakat Cireundeu tidak pernah mengonsumsi nasi sebagai makanan pokoknya. Melainkan makanan utama yang dikonsumsi adalah singkong. Masyarakat setempat menyebutnya rasi’. Sebenarnya rasi hampir sama dengan nasi biasa, hanya saja terbuat dari singkong. Jika kehabisan singkong makanan penggantinya adalah jagung. Cireundeu sendiri dikenal sebagai desa swasembada pangan. Masyarakat setempat akan mengonsumsi apa yang mereka tanam. Rasi hasil singkong yang diolah, sudah dikonsumsi masyarakat Kampung Adat Cireundeu sejak sekitar 85 tahun lalu. Bisa dibilang masyarakatnya sudah mandiri pangan. Sehingga mereka tidak terpengaruh oleh fluktuasi harga beras di pasaran. Dan kehidupan di kampung ini juga bisa dibilang tak terpengaruh gejolak ekonomi-sosial. “Teu Boga Sawah Asal Boga Pare, Teu Boga Pare Asal Boga Beas, Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu, Teu Nyangu Asal Dahar, Teu Dahar Asal Kuat.” “Tidak Punya Sawah Asal Punya Beras, Tidak Punya Beras Asal Dapat Menanak Nasi, Tidak Punya Nasi Asal Makan, Tidak Makan Asal Kuat.” Kalimat tersebut seolah merangkum sejarah bagaimana masyarakat memakan rasi. Sesuai juga dengan tradisi nenek moyang mereka yang rutin berpuasa konsumsi beras dalam waktu tertentu. Tujuan puasa adalah untuk mendapatkan kemerdekaan lahir dan batin. Sebuah ritual yang juga berfungsi untuk menguji keimanan seseorang. Serta sebagai pengingat akan Tuhan Yang Maha Esa. 4. Puncak Salam Puncak salam merupakan tempat meditasi bagi masyarakat Cireundeu. Kegiatan meditasi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur terhadap alam. Masyarakat setempat percaya bahwa meditasi dapat mengumpulkan energi dari alam. Sebuah bukit dengan ketinggian 905 mdpl ini sering digunakan sebagai camping around oleh wisatawan. Biasanya masyarakat Cireundeu juga menjadikan Puncak Salam sebagai tempat upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. 5. Pintu Samping Rumah Menghadap Timur Ada satu keunikan bangunan yang bisa kamu lihat di seluruh penjuru kampung. Rumah mereka memiliki pintu samping yang menghadap ke arah timur. Sebuah keharusan yang harus diterapkan oleh seluruh warga. Bertujuan agar cahaya matahari masuk ke rumah, ke bumi mereka. 6. Semangat Gotong Royong dan Hidup Berdampingan Menyambut tamu yang datang. Foto Dede Diaz Abdurahman/GenPI Jabar Masyarakat kampung ini terdiri dari mayoritas pemeluk agama Islam. Berbaur dengan masyarakat adat, semuanya memiliki semangat bergotongroyong. Banyak pihak yang sudah mengunjungi kampung adat ini. Mulai dari yang berutujan wisata, penelitian, acara adat, dan acara-acara lain. Masyarakat adatnya tersebar di 3 RT. Ada 67 keluarga dengan 59 kepala keluarga. Di kampung ini kamu bisa melihat ada masjid dan bale sarasehan. Bale ini adalah tempat pertemuan masyarakat adat. Begitu mengagumkan bukan masyarakatnya bisa hidup berdampingan dengan harmonis. Semangat gotong royong tercermin dalam berbagai kegiatan kampung. 7. Hutan di Cireundeu Hutan di Cireundeu dikenal sebagai hutan penyumbang oksigen terbesar di Kota Cimahi. Di sini hutan disebut juga dengan leweung. Cireundeu memiliki tiga leweung yang berbeda, yaitu Leweung Baladahan, Leweung Tutupan, dan Leweung Larangan. Leweung Baladahan adalah hutan yang menghasilkan sumber pangan seperti singkong, kacang-kacangan, dan lain-lain. Leweung Tutupan terdiri dari berbagai tanaman herbal yang ditanam. Terdiri dari rendeu, toga, babadotan, dan mahoni. Sedangkan Leweung Larangan adalah hutan yang tidak boleh dikunjungi oleh wisatawan. Hal ini karena hutan ini sangat dijaga dan dilindungi nilai sakralnya oleh masyarakat Cireundeu. 8. Kesenian Kalau kamu berkunjung bertepatan dengan upacara adat, kamu bisa menyaksikan beberapa kesenian khas. Seperti kesenian gondang, karinding, serta angklung buncis. Baca juga* Pesona Desa Wisata Malasari di Nanggung Kabupaten Bogor Recommended! Tidak mengherankan kalau kampung adat yang ada di Kota Cimahi ini menjadi destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Kita bisa berkunjung bersama keluarga atau kawan jalan. Menyaksikan dan belajar langsung mengenai ragam kearifan lokal yang masih dijalankan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kampung. Ada rencana berkunjung ke Kampung Adat Cireundeu di Kota Cimahi Jawa Barat? Artikel Kampung Adat Cireundeu ini ditulis oleh Amelia Dwinda Gusanti, Universitas Telkom, Peserta Magang Genpinas Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Kampung Adat Cireundeu, bukan merupakan nama kampung adat yang asing lagi di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia. Kampung ini berada di kelurahan Leuwigajah, kecamatan Cimahi Selatan, kota Cimahi, provinsi Jawa Barat, tepat letak kampung adat Cireundeu ini berada di sebuah lembah yang diapit Gunung Kunci, Gunung Cimenteng, dan Gunung Gajahlangu. Seperti namanya asal-usul penamaan kampung adat Cireundeu diambil dari kata “ci” yang dalam bahasa sunda berarti cai atau dalam bahasa indonesia yang berarti air, dan “reundeu” yang merupakan nama sebuah pohon. Sehingga nama Cireundeu ini diambil karena wilayah nya yang memiliki banyak pohon reundeu. Kampung adat Cireundeu merupakan kampung adat yang memiliki masyarakat yang cerdas dalam mengelola kehidupan sehari-harinya, prinsip-prinsip kehidupan yang dipegang oleh masyarakat kampung Cireundeu dari masa ke masa tidak menjadi penghalang zaman, melainkan memberikan dampak positif dalam pola kehidupan. Dari segi bahasa keseharian masyarakat baik orang tua, maupun anak-anak dalam komunikasi menggunakan bahasa sunda sebagai bentuk menjaga satu hal yang menjadikan kampung adat Cireundeu dikenal oleh banyak masyarakat umum karena makanan pokok utama warga sekitar kampung Cireundeu bukan merupakan beras atau nasi, melainkan makanan pokok utamanya yaitu singkong. Bukan tanpa alasan singkong menjadi makanan utama warga kampung adat Cireundeu, hal ini tentu berkaitan dengan beberapa faktor seperti sejarah pada masa penjajahan dan letak geografis kampung Cireundeu. Terdapat salah satu kalimat yang menjadi gambaran singkong sebagai makanan pokok utama kampung adat Cireundeu. “Teu Boga Sawah Asal Boga Pare, Teu Boga Pare Asal Boga Beas, Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu, Teu Nyangu Asal Dahar, Teu Dahar Asal Kuat.” Tidak Punya Sawah Asal Punya Beras, Tidak Punya Beras Asal Dapat Menanak Nasi, Tidak Punya Nasi Asal Makan, Tidak Makan Asal Kuat. Melihat dari bagaimana masyarakatnya yang disiplin menjaga budaya serta alamnya dalam hal ini masyarakat Cireundeu dapat dikatakan mandiri dalam kehidupan pangan sehari-hari, karena masyarakat kampung Cireundeu biasa mengonsumsi apa yang mereka tanam. Persoalan tata ruang di kampung Cireundeu sudah menjadi hal yang sangat di pentingkan dan bukan menjadi hal yang aneh bahkan tabu lagi dalam masyarakat, sebab perhatian tersebut merupakan bentuk penjagaan alam sekitar. Dalam proses keseharian tanam-menanam tumbuhan seperti singkong salah satunya, tidak dilakukan di sembarang tempat terdapat lahan khusus dalam menanamnya, lahan tersebut yakni Hutan Baladahan sebagai hutan garapan, atau hutan yang diperuntukan menanam atau berkebun. Karena kampung Cireundeu memiliki 3 hutan selain hutan baladahan, hutan lainnya yang terdapat di kampung Cireundeu yakni hutan larangan dan hutan tutupan, alasan tidak semuanya dijadikan hutan garapan yakni guna menghindari pengikisan tanah, longsor, dan banjir, serta untuk menjaga sumber air, oksigen yang bersih, dan keutuhan alam yang dibutuhkan mahluk hidup untuk kehidupan. Oleh karenanya terdapat aturan-aturan tertentu ketika memasuki suatu hutan tersebut, salah satunya yakni menanggalkan alas kaki ketika memasuki hutan. Masyarakat kampung Cireundeu bukanlah masyarakat yang tertutup akan perkembangan zaman, hal ini tergambar dalam prinsip yang dipegang oleh masyarakat Cireundeu yakni “Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman” yang berarti “Ngindung Ka Waktu” yakni tetap warga kampung adat menjaga budaya dan adat istiadat leluhur , dan “Mibapa Ka Jaman” yang berarti tidak melawan zaman atau tetap mengikuti perkembangan zaman. Masyarakat kampung Cireundeu bahkan sangat peduli akan pendidikan anak-anak, hal ini terlihat dari adanya Sekolah Dasar yang berada di dalam wilayah kampung Cireundeu, bukan hanya itu terdapat pula bentuk sekolah kecil, bahkan di dalamnya terdapat layanan wifi gratis yang diberi oleh Diskominfo Jabar. Sekolah ini di fasilitasi untuk anak-anak kampung Cireundeu dalam mempelajari aksara sunda juga kesenian daerah, yang biasanya dilakukan tiap 1 minggu sekali yakni di hari minggu. Hal ini dilakukan guna menjaga kebudayaan dengan praktik secara langsung agar budaya tersebut tidak hanya dikenal dalam bentuk teori. Tidak hanya itu banyak pula anak-anak dari kampung Cireundeu yang sudah menjadi sarjana dan bekerja diluar kampung Cireundeu. Salah satu nasihat yang diberikan oleh orang tua kampung Cireundeu pada anaknya yakni salah satunya “kembali ke rumah harus dekat dengan alam”. Solidaritas antar masyarakat kampung Cireundeu sangat terasa mulai dari hal kecil seperti anak-anak yang masih banyak memainkan permainan tradisional bersama tanpa gangguan teknologi ditengahnya. Kemudian terlihat pula dalam suatu upacara adat yang akan dilakukan, dimana seluruh elemen masyarakat ikut membantu dalam prosesnya, bahkan menurut salah satu sesepuh kampung adat Cireundeu salah satu yang membuat kampung Cireundeu diberi penghargaan terkait dengan toleransi umat beragama yakni semangat gotong royong masyarakat yang tidak terhalangi oleh perbedaan ajaran ataupun agama. Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia 2019 ABSTRAK Kampung adat Cirendeu menjadi daya tarik bagi para wisatawan dikarenakan masyarakatnya yang masih kental akan adat yang tetap teguh dilakukan sesuai dengan yang lelehur jalankan dahulu dan tetap mampu mempertahankan kearifan lokal yang mereka miliki meskipun sudah mengalami perubahan pada segi sosial ekonomi, perubahan tersebut terjadi karena adanya unsur modernisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden dan melakukan studi pada situasi yang alami. Pengumpulan data menggunakan wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat Cireundeu sangat memegang teguh kepercayaannya, kebudayaan serta adat istiadat mereka. Kehidupan masyarakat Cirendeu masih kental dengan sifat gotong-royong dan saling tolong menolong antar sesama warga. Tradisi leluhur Kampung adat Cireundeu telah mengajarkan pada masyarakat lokalnya untuk tidak bergantung terhadap padi dan import dari daerah lain. Tokoh adat berperan dalam mensosialisasikan, mengajarkan dan menjaga tradisi secara turun-temurun kepada masyarakat atau generasi penerus. Kata Kunci kampung adat cirendeu, wisata budaya, kearifan lokal ABSTACT Cirendeu traditional village becomes an attraction for tourists because the people who are still thick with custom that remain firmly carried out in accordance with the melting run first and still able to maintain their local wisdom even though it has undergone changes in socioeconomic terms, these changes occur because of the elements modernization. This study uses qualitative methods, the researcher makes a complex picture, examines words, detailed reports from the respondents' views and conducts studies in natural situations. Data collection uses interviews and documentation studies. The results showed that the Cireundeu indigenous people were very firm in their beliefs, culture and customs. Cirendeu community life is still thick with the nature of mutual assistance and mutual help between fellow citizens. The ancestral tradition of the Cireundeu traditional village has taught its local people not to depend on rice and imports from other regions. Customary leaders play a role in socializing, teaching and maintaining traditions for generations to the community or future generations. Keywords Cirendeu traditional village, cultural tourism, local wisdom Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free KEARIFAN BUDAYA LOKAL KAMPUNG ADAT CIRENDEU SEBAGAIWISATA BUDAYA DI KOTA CIMAHIAdira Ismi Wahyuni1;Dean Erliana Destiani2;Nadila Putri Lesmana3;QonitatushSholihah4;Rd Salvira Yuna Pratiwi5;Gita Siswhara6;Fajar Nugraha Asyahiddaadiraismiwahyuni 1 ; deanerliana1999 2 ;nadilalesmana13 3 ; qonitatush87 4 ; rashalyunna 5;wa_egha 6 ; nugrahafajar 7 Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Pendidikan Ilmu PengetahuanSosial, Universitas Pendidikan Indonesia2019ABSTRAKKampung adat Cirendeu menjadi daya tarik bagi para wisatawan dikarenakanmasyarakatnya yang masih kental akan adat yang tetap teguh dilakukan sesuaidengan yang lelehur jalankan dahulu dan tetap mampu mempertahankan kearifanlokal yang mereka miliki meskipun sudah mengalami perubahan pada segi sosialekonomi, perubahan tersebut terjadi karena adanya unsur ini menggunakan metode kualitatif, peneliti membuat suatu gambarankompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden danmelakukan studi pada situasi yang alami. Pengumpulan data menggunakanwawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwamasyarakat adat Cireundeu sangat memegang teguh kepercayaannya,kebudayaan serta adat istiadat mereka. Kehidupan masyarakat Cirendeu masihkental dengan sifat gotong-royong dan saling tolong menolong antar sesamawarga. Tradisi leluhur Kampung adat Cireundeu telah mengajarkan padamasyarakat lokalnya untuk tidak bergantung terhadap padi dan import daridaerah lain. Tokoh adat berperan dalam mensosialisasikan, mengajarkan danmenjaga tradisi secara turun-temurun kepada masyarakat atau generasi Kunci kampung adat cirendeu, wisata budaya, kearifan lokalABSTACTCirendeu traditional village becomes an attraction for tourists because the peoplewho are still thick with custom that remain firmly carried out in accordance withthe melting run first and still able to maintain their local wisdom even though ithas undergone changes in socio-economic terms, these changes occur because ofthe elements modernization. This study uses qualitative methods, the researchermakes a complex picture, examines words, detailed reports from the respondents'views and conducts studies in natural situations. Data collection uses interviewsand documentation studies. The results showed that the Cireundeu indigenouspeople were very firm in their beliefs, culture and customs. Cirendeu communitylife is still thick with the nature of mutual assistance and mutual help betweenfellow citizens. The ancestral tradition of the Cireundeu traditional village hastaught its local people not to depend on rice and imports from other leaders play a role in socializing, teaching and maintaining traditionsfor generations to the community or future P a g e Keywords Cirendeu traditional village, cultural tourism, local wisdomPendahuluanIndonesia dikenal memiliki banyakkeberagaman dan kekayaanbudayanya. Dari Sabang darimerauke Indonesia memilikiberagam suku, bahasa, budaya, adatistiadat dan agama yang berbeda-beda. Meskipun perkembanganjaman semakin modern tetapi negaraIndonesia masih mempertahankanbudaya yang dimiliki. Jika haltersebut dapat dikelola dengan baikmaka keanekaragaman budaya yangada di Indonesia bisa dijadikansebagai objek wisata. Dengandijadikan sebagai objek wisata makaIndonesia dapat menjaga eksistensibudaya yang dimiliki agar tetapbertahan dan dikenal masyarakatluas. Perkembangan wisata diIndonesia semakin berkembang danterus membaik dari waktu ke waktu. Suweda dan Widyatmaja 2010 89mengatakan bahwa “atraksi wisatabudaya seperti arsitektur rumahtradisional di desa, situs arkeologi,benda-benda seni dan kerajinan,ritual dan upacara budaya, festivalbudaya, kegiatan dan kehidupanmasyarakat sehari-hari,keramahtamahan, makanan dan lain-lain merupakan daya tarik bagiwisatawan”. Oleh karena itu denganmemanfaatkan keberagaman budayadi Indonesia maka hal tersebut dapatmenjadi kekuatan pariwisata diIndonesia karena Indonesia memilikikebudayaan yang kaya, variatif danunik. Salah satu pariwisata minat khususyang sedang berkembang diIndonesia adalah desa wisataberbasis budaya atau biasa disebutsebagai kampung adat. Kampungadat ini merupakan suatu kelompokmasyarakat yang masih menjagakemurnian atau keaslian tradisibudaya nya yang telah diturunkandari nenek moyang nya. Biasanya didalam suatu kampung adat terdapataturan dan norma adat yang perludipatuhi oleh masyarakatnya. Salahsatu tempat yang dapat dijadikansebagai wisata budaya yaituKampung adat Cireundeu. Dengankearifan lokal yang dimiliki olehkampung Cireundeu dapat menarikpara wisatawan lokal maupunwisatawan dari luar adat Cireundeu menjadidaya tarik bagi masyarakat karenamasyarakat disana masih memegangteguh kepercayaan serta tradisi dankebudayaan dari karuhun atauleluhurnya. Sehingga dapatdikatakan bahwa KampungCireundeu ini menggunakan kearifanlokal sebagai wisata budaya. Dengandemikian, yang dimaksud dengankebijakan pariwisata berbasiskearifan lokal adalah kebijakan dibidang pariwisata yangmengedepankan segala bentukkeunikan yang dimiliki oleh suatukomunitas atau daerah tertentu yangmengandung nilai-nilai kebudayaanbaik yang bersifat material itu juga jika masyarakat lokaldapat berpartisipasi dengan aktifdalam mengembangkan pariwisata di2 P a g e daerah tersebut maka hal itu dapatdijadikan sebagai upaya untukmembantu meningkatkanperekonomian masyarakat. Karenajika masyarakat lokal dapatmengelola perkembangan pariwisatadengan baik dan efektif makatentunya masyarakat akanmendapatkan keuntungan materialmaupun non-material. Oleh karenaitu masyarakat Cireundeu harusmelakukan pengelolaan dengan baikdari sisi manajemen ataupun dari sisipemasarannya agar kampungCireundeu ini dapat dikenal olehmasyarakat PenelitianMetode penelitian merupakan salahsatu faktor yang cukup pentingdalam melakukan suatu penelitian,karena pada dasarnya metodepenelitian merupakan cara ilmiahuntuk mendapatkan data dengantujuan dan kegunaan penelitian adalah usahauntuk menemukan, mengembangkan,dan menguji suatu kebenaranpengetahuan dengan cara-carailmiah. Oleh karena itu, metode yangdigunakan dalam suatu penelitianharus penelitian kualitatif adalahmengamati orang dalam lingkunganhidupnya berinteraksi denganmereka, berusaha memahami bahasadan tafsiran mereka tentang duniasekitarnya, mendekati atauberinteraksi dengan orang-orangyang berhubungan dengan focuspenelitian dengan tujuan mencobamemahami, menggali pandangan danpengalaman mereka untuk mendapatinformasi atau data yang penelitian ini peneliti membuatsuatu gambaran kompleks, menelitikata-kata, laporan terinci daripandangan responden dan melakukanstudi pada situasi yang penelitian kualitatif, penelitiadalah instrument kunci. Oleh karnaitu peneliti harus memiliki bekalteori dan wawasan yang luas jadibisa bertanya, menganalisis danmengkonstruksi objek yang diltelitimenjadi lebih kualitatif meyakini bahwainformasi-informasi akan diperolehjika dilakukan penelaahan melaluiinteraksi dengan narasumber hal inididasari pendapat “Peneliti kualitatifpercaya bahwa kebenaran adalahdinamis dan dapat ditemukan hanyamelalui penelaahan terhadap orang-orang melalui interaksinya dengansituasi sosial mereka” Danim dalamTrianto, 2010.Maka dalam hal ini peneliti memilihpenelitian kualitatif untuk diterapkandalam mendalami secara detail. Padasaat mendalami informasi dalampenelitian ini, penulis tidak dibatasioleh alat ukur sebagaimana dalampenelitian kuantitatif, sehinggapenulis dapat memperoleh informasi-informasi baru yang berkaitandengan Kampung Cireundeu..Informasi-informasi baru yangdiperoleh saat penelitian yang padaawalnya tidak diketahui penulis. Halini sejalan dengan kepentingandigunakannya penelitian kualitatifyang di antaranya mengungkapkan,bila masalah penelitian belum jelas,3 P a g e masih remang-remang, dan terdapatkemungkinan masih metode penelitian inididasari pendapat “Penelitiankualitatif merupakan metode-metodeuntuk mengeksplorasi danmemahami makna yang olehsejumlah individu atau sekelompokorang dianggap berasal dari masalahsosial atau kemanusiaan” Cresswell,2012 hal 4.Teknik Pengumpulan DataBerdasarkan sumber pengambilandata, dalam penelitian ini penelitimenggunakan data primer yaitu datayang diperoleh langsung dari objekyang diteliti melalui prosedur danteknik pengambilan data yang berupaobservasi, wawancara maupunpenggunaan instrumen pengukuranlainnya yang khusus dirancangsesuai dengan tujuan peneliti Adi,200457. Dalam suatu penelitiandiperlukan adanya suatu data sebagaihasil akhir dari penelitian. Untukpengumpulan data yang konkritpeneliti melaksanakan beberapateknik pengumpulan data, sebagaiberikut 1. Wawancara Metode wawancara atau interviewadalah suatu metode yang dilakukandengan jalan mengadakan jalankomunikasi dengan sumber datamelalui dialog Tanya-jawab secaralisan baik langsung maupun tidaklangsung. Lexy J Moleongmendefinisikan wawancara sebagaipercakapan dengan maksud wawancara digunakansebagai teknik pengumpulan dataapabila peneliti ingin melakukanstudi pendahuluan untuk menemukanpermasalaham yang harus diteliti,tetapi juga apabila peneliti inginmengetahui hal-hal dari respondenyang lebih mendalam. Teknikpengumpulan data ini mendasarkandiri pada laporan tentang diri sendiriatau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan ataukeyakinan pribadi Sugiyono, 2007 17.Adapun langkah-langkah wawancaramenurut Lincoln and Guba dalamSugiyono 2013235mengemukakan ada tujuh langkahdalam penggunaan wawancara untukmengumpulkan data dalam penelitiankualitatif, yaitu1. Menetapkan kepada siapawawancara itu Menyiapkan pokok-pokokmasalah yang akan menjadibahan Mengawali atau membukaalur Melangsunhkan Mengkonfirmasi ikhtisarhasil wawancara Menuliskan hasil wawancarake dalam catatan Mengidentifikasikan tindaklanjut hasil wawancara yangtelah hal ini peneliti akanmenggunakan metode wawancaralangsung dengan subjek informan. Disamping itu untuk memperlancar4 P a g e proses wawancara dalam hal inipeneliti akan menggunakanWawancara atau interviewterstruktur, yaitu wawancara yangdisusun secara terperinci sehinggamenyerupai check list. Pewawancaratinggal membubuhkan tanda vcheck pada nomor pertanyaan yangsudah Studi Dokumentasi Studi dokumentasi berasal dari katadokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Para pakar selalumengartikan dokumen dalam duapengertian, yaitu pertama, sumbertertulis bagi informasi sejarahsebagai kebalikan dari padakesaksian lisan, artefak, terlukis danlain-lain. Kedua diperuntukkan bagisurat resmi dan surat negara seperti,perjanjian undang-undang, hibah,konsesi dan lainnya. Kemudian studidokumentasi, yaitu mencari datamengenai hal-hal atau variabel yangberupa catatan, transkip, buku, suratkabar, prasasti, notulen rapat,lengger, agenda, dan sebagainya. Menurut Djam’an Satori 2007 93,studi dokumentasi merupakan usahauntuk memperoleh keteranganmelalui pendapat tersebut, makastudi dokumentasi dalam penelitianini dilakukan untuk memperkuatdata-data yang telah didapatkandengan pendukung dokumen-dokumen yang ada, yang berkaitandengan objek demikian studi dokumentasipeneliti bersumber dari tokoh danmasyarakat setempat serta hasilpenelitian yang relevan daripenelitian sebelumnya. Dalampenelitian ini, peneliti terlibatsepenuhnya dalam pengumpulandata. Adapun waktu pengumpulandata dilaksanakan pada tanggal 10Oktober 2019 di KampungCireundeu, Leuwigajah, Kec. CimahiSel., Kota Cimahi, Jawa dan PembahasanKampung Cireundeu terletak diKelurahan Leuwigajah KecamatanCimahi Selatan Kota Cirendeu merupakan suatutempat yang memiliki karakteristiktersendiri, didalamnya terbentuksuatu komunitas adat kesundaanyang mampu memelihara, danmelestarikan adat istiadat secaraturun temurun dan tidak terpengaruhioleh budaya dari luar. Kampung AdatCirendeu ini terdiri dari 50 kepalakeluarga atau 800 jiwa, yangsebagian besar bermata pencaharianbertani ketela. Kampung AdatCireundeu sendiri memiliki luas 64ha terdiri dari 60 ha untuk pertaniandan 4 ha untuk besar penduduknyamemeluk dan memegang teguhkepercayaan Sunda Wiwitan hinggasaat ini dan mereka selalu konsistendalam menjalankan ajarankepercayaan serta terus melestarikanbudaya dan adat istiadat yang telahturun-temurun dari nenek berasal dari nama pohonreundeu, karena sebelumnya dikampung ini banyak sekali populasipohon reundeu. Pohon reundeumerupakan pohon untuk bahan obatherbal. Kampung ini disebut5 P a g e Kampung Cireundeu, karenamasyarakat Kampung Cireundeumasih memegang teguh tradisi paraleluhur mereka dengan pengawasanketua adat. Tradisi yang masihdipertahankan oleh Warga AdatKampung Cireundeu yaitu bahanmakanan pokok dan tradisi 1 Kampung AdatCireundeu telah memutuskan untukberalih makanan pokok dari berasnasi menjadi beras singkong, hasildari olahan singkong tersebut, berupaegg roll, kue nastar, peuyeum, acidan kerupuk. Dengan adanya berassingkong bertujuan agar manusiatidak bergantung pada satu makananpokok saja, seperti bahan makananpokok negara Indonesia yaitu beras,namun pandangan masyarakatKampung Adat Cireundeu memilikialternatif dalam bahan makananpokok yaitu singkong. Dalam tradisi1 Sura, warga adat melakukanupacara adat yang bertujuan untukmensyukuri segala nikmat yangdiberikan Tuhan kepada warga salahsatunya mensyukuri berlimpahnyakekayaan alam yang bisa merekamanfaatkan untuk keberlangsunganhidup warga adat adat Cireundeu sangatmemegang teguh kepercayaannya,kebudayaan serta adat istiadatmereka. Mereka memiliki prinsip“Ngindung Ka Waktu, Mibapa KaJaman” arti kata dari “Ngindung KaWaktu” ialah kita sebagai wargakampung adat memiliki cara, ciri dankeyakinan “Mibapa Ka Jaman”memiliki arti masyarakat KampungAdat Cireundeu tidak melawan akanperubahan zaman akan tetapimengikutinya seperti adanyateknologi, televisi, alat komunikasiberupa hand phone, dan ini mempunyai konsepkampung adat yang selalu diingatsejak zaman dahulu, yaitu suatudaerah itu terbagi menjadi tigabagian, yaitu1. Leuweung Larangan hutanterlarang yaitu hutan yang tidakboleh ditebang pepohonannya karenabertujuan sebagai penyimpanan airuntuk masyarakat adat Leuweung Tutupan hutanreboisasi yaitu hutan yangdigunakan untuk reboisasi, hutantersebut dapat dipergunakanpepohonannya namun masyarakatharus menanam kembali denganpohon yang baru. Luasnya mencapai2 hingga 3 Leuweung Baladahan hutanpertanian yaitu hutan yang dapatdigunakan untuk berkebunmasyarakat adat ditanami oleh jagung,kacang tanah, singkon atau ketela,dan umbi-umbianKampung Adat Cirendeu ini sudahada sejak tahun 1918. Kampung AdatCirendeu memiliki strukturkelembagaan adat, karena inimenjadi salah satu pendukungterlaksananya suatu aturan dankesepakatan adat di KampungCirendeu. Adapun struktur dalamlembaga adat masyarakat Cireundeuyaitu6 P a g e 1. Sesepuh, yaitu seseorang yangmenjadi juru kunci sejarah mengenaikampung adat Ais Pangampih, yaitu wakil darisesepuh atau juga seseorang yangmemberikan informasi terkaitbahasa, simbol-simbol Ais Panitren, yaitu seseorang yangditugaskan sebagai HubunganMasyarakat HumasWisata Budaya Kampung Cireundeupada umumnya, kampung ini seringmengadakan upacara adat padaacara-acara pernikahan, kelahiran,kematian, dan puncaknya pada ritualtahunan yaitu Syura-an atau tahunbaru Saka Sunda yang tahun ini jatuhpada bulan Oktober. Acara upacaraSyura-an ini dirayakan sebagai rasasyukur masyarakat adat atas rahmatdari yang Mahakuasa dan biasanyadirayakan secara besar-besaran. Daritahun ke tahun berbagai instansipemerintah, perwakilan kampungadat, komunitas, kepala keluargawarga Kampung Cirendeu danmasyarakat sekitar turut memberikansumbangsihnya dalam caranyamasing – masing demimensukseskan acara adat acara Syura-an, yaitu 1. PersiapanBeberapa persiapan sebelumdilaksanakan upacara Suraana Pembentukan kepanitiaanPembentukan kepanitiaan inidilaksanakan kurang lebih tigaminggu. Dalam pembentukanpanitia di diskusikan di balesaresehan bersama Sesepuh Pendanaan/biaya pelaksanaanDana untuk perayaan Suraan iniberasal dari swadaya masyarakatadat Cireundeu sendiri. Masyarakattidak pernah meminta dana Tempat dan peralatanTempat yang dipilih untukpelaksanaan 1 Sura biasa digelardi bale saresehan saresehan,sedangkan untuk ngajayak atauhiburannya dilakukan di panggungdekat bale saresehan Latihan ngamumuleLatihan ngamumule ini adalahberbicara sambil diiringi olehmusik tradisional yaitu Merangkai sesajenDalam merangkai sesajen inimasyarakat mengumpulkan hasilolahan pertanian seperti buah-buahan. Dan sesajen ini disimpandi tengah-tengah bale saresehantempat berkumpul masyarakat Memasak Olahan SingkongMemasak olahan singkong inidilakukan pada acara 1 Sura pagisebelum acara 1 Sura ibu - ibu adat memasak untuksemua warga adat dan tamuyanghadir juga untuk para Acara 1 SuraRangkaian acara 1 Sura ini antaralaina Ngamumule7 P a g e b Nasehat sesepuh,sesepuh memberikan nasehat agarwarga adat Cireundeu tetap bisamenjaga apa yang diwariskan olehleluhur Sungkemansemua warga adat melaksanakansungkeman dengan cara memutar kesemua warga adat Makan bersamamakan bersama disini tidakdibatas hanya warga adat, tetapipara tamu pun diajak untuk Mulungsesajen, pada acara inidikhususkan kepada anak - yang telah dirangkai dibukapada acara ini dan di ambil Nyekarsetelah mulung sesajen selesaidilanjutkan nyekar, yaitu berziarahkepada makam Acara NgajayakNgajayak dilakukan pada tanggal 20-an, pada acara ini tidak tentudiselenggarakan tanggal berapa,karena ini keputusan Sesepuh danketua panitia. Tetapi biasanyadiselenggarakan lebih dari tanggal20, acara ini digelar selama dua haridua malam. “ Ngajayak”mempunyai arti keliling kampung dari gerbang desa yang berakhir dibalai desa, rombongan disambutdengan iring – iringan musikangklung buncis dan gending. sepertikidung bumi segandu, tari jaipong,pencak silat, karinding, calung,marawis, dan pada penghujung acaraditutup dengan penampilan acara Ngajayak ini terbukauntuk semua masyarakat umum,masyarakat bisa ikut berpartisipasimenyumbangkan bakat, dan padaacara ini ada beberapa dariKampung Adat lain yang datangdari luar Kampung Cireundeu. Acaraini digelar selama dua hari duamalamKampung Cirendeu inimempunyai unsur kebudayaan yangunik, sehingga Kampung Cirendeuini dapat menjadi daya tarik wisata diKota BahasaDalam berkomunikasi antarmasyarakat, bahasa yang merekagunakan sehari - hari adalah Sistem PengetahuanSistem pengetahuan yangdigunakan dalam kehidupansehari - hari di Kampung adatCireundeu yaitu pengetahuan dalambidang pertanian, kesenian, dancara mengolah beras singkong yangdiajarkan secara turun Organisasi SosialDalam sistem organisasi sosial,yang ada di Kampung Cireundeuadalah kelompok tani, kelompokternak domba, dan kelompok ibu,ibu adat yang mengolah peralatan dan teknologi8 P a g e Dalam sistem teknologi atauperalatan hidup yang dimiliki olehmasyarakat Kampung adatCireundeu sudah mulaiberkembang misalnya dalambidang pertanian, masyarakat masihmenggunakan cangkul untukpenanaman singkong. Dalam caramengolah beras singkong,masyarakat Kampung Cirendeui inisudah mulai menggunakan mesinpemarut alat sealer, plastik Sistem Mata PencaharianDalam segi mata pencaharian,masyarakat adat Cireundeumayoritas bekerja sebagai petanidan peternak domba. Merekamempunyai lahan garapan masing -masing, dan tanaman yang merekatanam sebagian besar singkong danyang lainnya tanaman sepertikacang- kacangan. Masyarakat adatCireundeu menggunakan pupukalami dari kotoran domba Sistem ReligiMasyarakat adat Cireundeumenyebut diri mereka penganutSunda Wiwitan, Sunda Wiwitansendiri mengandung arti Sundayang paling awal dan bagi merekaagama bukan sarana penyembahannamun sarana aplikasi dalamkehidupan, karena itu merekamemegang teguh tradisi dan jarangsekali ditemukan situs- KesenianDalam sistem kesenian padamasyarakat adat Cireundeu initerdapat wayang yang biasaditampilkan pada saat acara masyarakatCirendeu masih kental dengan sifatgotong - royong dan saling tolongmenolong antar sesama termasuk ke dalammasyarakat adat, masyarakatKampung adat Cireundeu sudahmengalami perubahan pada segisosial ekonomi, perubahan tersebutterjadi karena adanya unsurmodernisasi yang masuk ke daerahKampung Cireundeu. Denganadanya perubahan tersebut,masyarakat Kampung adatCireundeu dapat dibilang masyarakatyang masih kental dengan adat yangtetap teguh dijalankan sesuai denganapa yang leluhur jalankan dulu dantetap mampu mempertahankankearifan lokal daerah leluhur Kampung AdatCireundeu telah mengajarkan padamasyarakat lokalnya untuk tidakbergantung terhadap padi dan importdari daerah lain. Kampung AdatCireundeu sangat menjaga tradisileluhur sehingga sekarang kampungadat tersebut menjadi potensi desaswasembada pangan menuju desamandiri pangan. Potensi yangmenguatkan Kampung AdatCireundeu yaitu dengan adanyakepemimpinan tetua adat yang selaluditaati, dan selalu menjagakelestarian lingkungan sebagaipendukung kegiatan pertaniantanaman pangan merekaSimpulan9 P a g e Terdapat beberapa hal yang membuatKampung Cireundeu menjadi salahsatu kampung yang dijadikan sebagaikampung wisata oleh pemerintahKota Cimahi, salah satunya adalahupacara satu Syura atau tahun baruSaka Sunda yang tahun ini jatuhpada bulan Oktober. Acara upacaraSyura-an ini dirayakan sebagai rasasyukur masyarakat adat atas rahmatdari yang Mahakuasa dan biasanyadirayakan secara besar-besaran. Daritahun ke tahun berbagai instansipemerintah, perwakilan kampungadat, komunitas, kepala keluargawarga Kampung Cirendeu danmasyarakat sekitar turut memberikansumbangsihnya dalam caranyamasing – masing demimensukseskan acara adat hal lain yang membuatkampung ini unik adalah kebiasaanmasyarakatnya yang hanya memakansingkong sebagai bahan makanpokok mereka, hal tersebut jugamenjadi daya tarik wisata kulineryang dimiliki oleh kampungCireundeu. SaranDari hasil observasi yang dilakukanoleh peneliti, ada beberapa saranyang penulis harapkan agar lebihdiperhatikan oleh pemerintah antaralain, pemerintah diharapkan bisalebih berpartisipasi di setiap acarakebudayaan yang diselenggarakanoleh Kampung Cireundeu, kemudiandiharapkan agar pemerintah setempatmemberikan modal usaha untukwarga kampung yang memiliki usahakuliner karena merupakan salah satusektor yang difokuskan di KampungCireundeu sendiri, mengingatkeunikan bahan pangan pokokyang digunakan yaitu PustakaDjam’an Satori dan Aan Komariah.2009. Metodologi PenelitianKualitatif. Bandung Alfabeta, R. 2004. MetodologiPenelitian Sosial dan Granit. J., W., 2012, Researchdesign Pendekatan kualitatif,Kuantitatif dan Mixed. YogyakartaPustaka Pelajar. h. 4Lexy J., Moleong. 2007.Metodologi Penelitian Kualitatifedisi revisi. Bandung RemajaRosda karya. 2013. Metode PenelitianKuantitatif, Kualitatif dan R & Alfabeta. 2010. Pengantar PenelitianPendidikan Bagi PengembanganProfesi Pendidikan dan TenagaKependidikan. Jakarta M. 2013. Implementasikebijakan pariwisata berbasiskearifan lokal studi di KabupatenManggarai Barat. Journal ofIndonesian Tourism andDevelopment Studies, 11, P. 2016. Pengembanganpotensi desa wisata berbasis budayatinjauan terhadap desa wisata di jawatengah. Jurnal Vokasi Indonesia,41.10 P a g e Triwardani, R., & Rochayanti, C.2014. Implementasi KebijakanDesa Budaya dalam UpayaPelestarian Budaya 42.Salsa Nuritsa. 2015. KearifanLokal Masyarakat Adat CirendeuKelurahan Leuwigajah KecamatanCimahi Selatan Kota CimahiSaraswati dan Reiza PermandaGulfa. 2017. Kearifan BudayaLokal Kampung Adat Cirendeu danKonsep Swasembada PanganKwisata. 2016. Wisata KampungAdat Cirendeu Cimahi. Kanal WisataIndonesia11 P a g e ResearchGate has not been able to resolve any citations for this has not been able to resolve any references for this publication. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Kampung cireundeu merupakan kampung yang melestarikan semua adat dan juga kepercayaan nenek moyang jaman dahulu. Kampung cireundeu menganut agama suku yaitu Sunda Wiwitan. Kepercayaan ini mengajarkan untuk selalu melestarikan budaya dan adat istiadat. Dengan sosial seperti itu, hal tersebutlah yang menjadi daya Tarik bagi pengunjung dan wisatawan untuk berkunjung ke tempat ini, dimana masyarakat Kampung Adat Cireundeu memiliki konsep kampung adat yang selalu diingat sejak zaman seperti halnya agama suku lain, Sunda wiwitan sangat menerima yang Namanya dunia Modern, namun tidak meninggalkan nilai-nilai luhur dalam diri mereka, dimana para penganut agama sunda wiwitan memakai alat-alat rumah tanggga yang berasal adri teknologi. Di kampung cireundeu ini sendiri melestarikan adat leluhurnya yakni makanan pokok yang mereka konsumsi bukanlah nasi dari beras melainkan nasi dari singkong. Kampung ini berada di daerah Cimahi Jawa Barat. Dokpri Agama suku "Sunda Wiwitan" memiliki prinsip ataupun pengajaran agama "Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman" arti kata dari "Ngindung Ka Waktu" ialah kita sebagai warga kampung adat memiliki cara, ciri dan keyakinan masing-masing. Sedangkan "Mibapa Ka Jaman" memiliki arti masyarakat Kampung Adat Cireundeu tidak melawan akan perubahan zaman akan tetapi mengikutinya seperti adanya teknologi, televisi, alat komunikasi berupa hand phone, dan penerangan. Dokpri Masyarakat yang berada di Kampung cireundeu ini punya konsep kampung adat yang selalu diingat sejak zaman dulu, yaitu suatu daerah itu terbagi menjadi tiga bagian, yaituLeuweung Larangan hutan terlarang yaitu hutan yang tidak boleh ditebang pepohonannya karena bertujuan sebagai penyimpanan air untuk masyarakat adat Cireundeu khususnya. Leuweung Tutupan hutan reboisasi yaitu hutan yang digunakan untuk reboisasi, jadi hutan tersebut dapat dipergunakan pepohonannya namun masyarakat harus menanam kembali dengan pohon yang Baladahan hutan pertanian yaitu hutan yang dapat digunakan untuk berkebun masyarakat adat Cireundeu. Biasanya ditanami oleh jagung, kacang tanah, singkong atau ketela, dan umbi-umbian, dan pada umumnya lebih dominan menanam Singkong yang merupakan makanan pokok di kampung ini. Makanan pokok yang terbuat dari singkong ini disebut dengan nama "Rasi" yang mereka olah sendiri sebagai bahan pangan. Sekian Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya PEDARAN TRADISI RITUAL KAMPUNG CIREUNDEU BASA SUNDAAssalamualaikum wr wbTerimakasih sudah berkunjung ke halaman blog datang di Perkenalkan blog ini berisi materi-materi pelajaran bahasa Sunda yang dikemas dalam media audio-visual untuk memberikan kesan belajar yang menyenangkan, mudah dipahami, dan memberikan banyak informasi baru kepada hanya blog saja, pun memiliki youtube channel, yang berisi video-video edukasi mengenai pembelajaran bahasa Sunda. Kalian bisa kunjungi youtube channel dengan klik link di bawah ada pertanyaan seputar PEDARAN TRADISI RITUAL KAMPUNG CIREUNDEU BASA SUNDA yang kurang dipahami, kalian bisa memberikan komentar, silahkan jangan ragu untuk mengisi kolom komentar di dengan adanya blog ini bisa memberikan manfaat bagi kalian belajar PEDARAN TRADISI RITUAL KAMPUNG CIREUNDEU BASA SUNDA. Kampung nu mayoritas masarakatna masih kénéh ngagem kapercayaan Sunda Wiwitan téh, dikokolakeun ku tilu sesepuh kampung, nyaéta Sesepuh nu nangtukeun kawijakan hirup kumbuh tur ngokolakeun ritual taunan dicepeng ku Emen Sunarya 75, Ais Pangampih nu ngokolakeun kamasarakatan dicepeng ku Widia 50, jeung Panitén nu ngokolakeun kapamudaan jeung tani sampeu dicepeng ku Asep Wardiman 45. Lega lahanna kurang leuwih 100 héktar, kabagi kana opat bagian, nyaéta 10 héktar lahan padumukan, 25 héktar leuweung baladahan lahan tani sampeu, sarta 65 héktar kabagi kana leuweung tutupan jeung larangan. Kagiatan ritual taunan nu panginsidéntalna di Cireundeu nyaéta Sérén Taun Ngemban Taun Saka’ unggal tanggal 1 Sura, nu sok disebut Suraan. Tempatna di Balé Saréséhan—legana 6×6 m lengkep jeung panggung pintonan kasenian nu legana 6×4 m—, pernahna di tengahtengah kampung. Tujuanna lian ti nutup jeung mapag taun anyar Saka, ogé salametan tina hasil tani jeung ingoningon, ngaharib-harib Sérén Taun di Kuningan. Lian ti éta, Balé Saréséhan gé gedé pisan fungsina pikeun para nonoman di dinya, pikeun dijadikeun tempat diajar aksara Sunda Kuna jeung rupaning kasenian Sunda celempungan, gondang, karindingan, angklung buncis, mamaos, jeung degung. Jenis sampeu nu dipelak tur dikonsumsi di Cireundeu nyaéta sampeu pait/karikil, nu ku masarakat séjén mah sok dipaké parab ingoningon. Lantaran lian ti rasana pait, ogé matak weureu. Nurutkeun Asep Wardiman, mémang sampeu pait goréng lamun langsung dikonsumsi, tapi lamun diolah kalawan apik tur beresih, sampeu pait lian ti gedé kandungan karbohidratna unggal 100 gr sampeu ngandung énérgi 359 kkal, 86,5 gr karbohidrat, 1,4 gr protéin, ogé gedé pisan kandungan acina. Tina 25 héktar nu dipaké lahan tani sampeu, Cireundeu ngahasilkeun 20 ton/héktar dina sakali panén. Sangkan kualitas sampeuna hadé, sampeu dipanén dina umur 10 bulan jeung jangkungna 2,5 m. Kitu ogé dina miarana, ti mimiti melak sték kudu bener-bener. Pangpangna nalika sampeu umur 2-4 bulan sok kaserang hama bulé hama daun jeung buruk beuti. Tani sampeuna kabagi kana 10 kelompok, nu unggal kelompokna boga mesin pamarudan sampeu pikeun dijadikeun aci. Teu di kampung teu di kota, sampeu diolah jadi rupaning kadaharan nu ruparupa ngaranna jeung ruparupa cara ngolahna. Kitu ogé di Cireundeu, sampeu nu dihasilkeunna diolah jadi rupaning kadaharan poko sapopoé, kayaning sangueun/ rasi beras nasi, awug, gegetuk, katimus, comro, misro, jrrd. Sedeng bahan kadaharan jeung kaolahan tina sampeu nu diproduksi pikeun jualeun antarana rasi, aci, rangining, opak, kicimpring, kurupuk, jeung peuyeum. Biasana sok dipasarkeun ka daérah Bandung, Sukabumi, Karawang, jeung Jakarta. Rasi mangrupa kadaharan poko Cireundeu tina hampas hasil ngolah sampeu jadi aci. Sanggeus sampeu dipesék tur diberesihan, laju diparud dina mesin pamarudan. Tah, hampas parudan nu dijadikeun rasi téh. Sedeng hasil parudanna mah dikeueman cai sapeuting dina bak pangeueuman. Laju cai pangeueuman tadi dipiceun, sarta dedekna dipoékeun dina waktu 1-2 poé. Sanggeus garing, jadi aci nu siap dipasarkeun. Tina poténsi nu ditataan tadi, Cireundeu sababaraha kali meunang pangajén ti intansi pamaréntahan, antarana, pangajén Ketahanan Pangan dan Kelompok Tani Spesifi k ti Kementrian Negara Lingkungan Hidup taun 1964 jeung 2007. Pangajén nu sarua ti Dinas Perekonomian dan Koperasi Kota Cimahi, Wali Kota Cimahi, Badan Ketahanan Pangan Departemen Perekonomian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Agro Provinsi Jabar, Gubernur Jabar, jeung Présidén SBY taun 2008 jeung 2009. Atuh pikeun widang kabudayaanna kungsi dilélér pangajén ti Disparbud Jabar taun 2008. Tangtuna, éta hal téh mangrupa tuladan pikeun kampung séjénna dina mekarkeun poténsi tani jeung kabudayaanna, kalawan dirojong ku masarakat jeung pamaréntahanna. Pamaréntah ogé ulah ngan saukur merhatikeun daérah nu geus nyampak poténsina, tapi ngarojong sakabéh daérah nu kurang atawa karék mucunghul poténsina. Komo dina nyanghareupan krisis pangan nu keur mahabuna mah, patani téh meureun moal kari daki. Ulah ngan sesebutan wungkul nagara agraris téh, bari jeung masarakatna loba nu paceklik.Ari Andriansyah tina Majalah Cahara 6, 2012 Pamekar Diajar Basa Sunda Pikeun Murid SMA/SMK/MA/MAK Kelas XI, penerbit Dinas Provinsi Jawa Barat, medal taun 2013, Kaca 84-86 LATIHAN SOAL 1 Kecap-kecap naon waé nu teu dipiharti? Pék catet sarta paluruh hartina dina kamus!2 Naon nu diagem ku mayoritas masarakat Kampung Cireundeu?3 Naon tujuan dilaksanakeun kagiatan ritual Sérén Taun Ngemban Taun Saka’ di Kampung Cireundeu?4 Naon waé kasenian Sunda nu aya di Kampung Cireundeu?5 Dijieun kaolahan naon waé sampeu ku urang Cireundeu?6 Ti saha waé Kampung Cireundeu narima pangajén? Bagaimana??? Penjelasan mengenai materi di atas dapat dipahami dengan baik??? jika masih belum paham, kalian bisa memberikan pertanyaan dengan mengisi komentar di bawah atau bisa juga mengunjungi postingan mengenai PEDARAN TRADISI RITUAL KAMPUNG CIREUNDEU BASA SUNDA lainnya atau langsung cari saja keyword materi yang kalian cari di bawah ini LINK KUMPULAN MATERI PEDARAN TRADISI SUNDA LENGKAP LINK 15+ KUMPULAN CONTOH PEDARAN TRADISI SUNDA LENGKAP LINK 50+ KUMPULAN SOAL PEDARAN TRADISI SUNDA LENGKAP Jika blog ini bisa memberikan banyak manfaat, jangan lupa untuk dukung blog ini dengan cara like, comment, dan share ke teman-teman kalian. Jangan lupa untuk bergabung dalam group belajar bahasa Sunda husus siswa se-Jabar, dengan klik link di bawah iniWHATSAPPTELEGRAMLINEFACEBOOKINSTAGRAMYOUTUBE Mari kita sama-sama bangun blog ini supaya bisa lebih berkembang lagi dan memberikan banyak ilmu yang bermanfaat bagi kalian BUKU SUMBERBUKU RANCAGÉ DIAJAR BASA SUNDABUKU BASA SUNDA URANGBUKU PAMEKAR DIAJAR BASA SUNDABUKU SIMPAY BASA SUNDABUKU GAPURA BASABUKU WIWAHA BASABUKU PRASADA BASAMODUL PANGAJARAN BASA SUNDAMODUL PPG BASA SUNDA GOOGLE TRANSLATE Perhatian! materi ini diterjemahkan oleh mesin penterjemah google translate tanpa adanya post editting, sehingga ketepatan dalam terjemahan masih buruk dan perlu dikembangkan dari fitur terjemahan ini untuk pengunjunga yang kesulitan memahami materi dan tidak sama sekali mengerti bahasa Sunda atau teman-teman pelajar dari luar Jawa Barat yang sedang belajar bahasa Sunda, fitur terjemahan ini bisa digunakan namun tidak 100% akurat, akan tetapi garis besarnya bisa diambil, daripada tidak mengerti mudah-mudahan admin punya waktu sehingga bisa mengoptimalkan fitur terjemahannya sendiri, dengan begitu pengunjung bisa mempelajari materi dalam bahasa Indonesia. PEDARAN TRADISI SUNDA A. PENGERTIAN BAHASAN TRADISI SUNDA Bahasa atau deskripsi adalah teks yang mengedarkan kasus berdasarkan fakta yang ditemukan. Baik dari hasil penelitian, baik dari hasil pengalaman mereka sendiri. Tentu saja, ada pengetahuan baru knowledge yang sangat bermanfaat bagi diskusi hampir sama dengan esai atau artikel, baik cara penulisan, atau kontennya. Hanya dalam esai atau artikel, subjektivitas saya gagasan menulis lebih tandes dan lebih jela B. BENTUK TULISAN BAHASAN Cara menulis Bahasa Sunda terdiri dari berbagai bentuk, termasuk ArgumentasiArgumentasi adalah wacana yang tidak benar-benar menggambarkan dan menjelaskan tidak adanya suatu masalah berdasarkan alasan kuat, untuk meyakinkan dan membangunkan pembaca untuk berjalan dalam sebuah adalah teks yang menjelaskan objek, tempat, atau peristiwa secara terperinci kepada pembaca seolah-olah Anda secara langsung mengalami peristiwa yang diwakili oleh lampu adalah tulisan yang menceritakan kejadian suatu peristiwa dari waktu ke waktu secara adalah wacana yang menggambarkan dan mengedarkan objek, prosesnya, tujuannya dan saya biasanya menggunakan bentuk tulisan campuran misalnya deskripsi dan narasi, atau narasi dan argumen. PEDARAN TRADISI RITUAL KAMPUNG CIREUNDEU BASA SUNDA Desa yang mayoritas masyarakatnya masih mempercayai RW ini dikelola oleh tiga orang sesepuh desa, yaitu Sesepuh yang mengatur kebijakan hidup regeneratif dan mengelola ritual tahunan yang diselenggarakan oleh Emen Sunarya 75, Ais Pangampih yang mengelola masyarakat yang diselenggarakan oleh Widia 50, dan Pengamat yang mengelola pemuda dan bercocok tanam hingga ditangkap oleh Asep Wardiman 45. Luas tanah kurang lebih 100 hektar, terbagi menjadi empat bagian, yaitu 10 hektar tanah pemukiman, 25 hektar hutan baladahan lahan pertanian sampai, dan 65 hektar terbagi atas tutupan hutan dan larangan. Kegiatan ritual tahunan paling sentral di Cireundeu adalah Sérén Taun Ngemban Taun Saka’ setiap hari pertama Sura, yang selalu disebut Suraan. Terletak di Bale Saréséhan – lebar 6×6 m dengan panggung pertunjukan seni 6×4 m -, dulu berada di tengah kampung. Tujuannya selain menutup dan melunasi tahun baru Saka, juga sebagai hari raya hasil pertanian dan peternakan, merayakan Tahun Baru di Kuningan. Selain itu, Bale Saréséhan akan memiliki fungsi yang sangat besar bagi anak muda di sana, sebagai tempat belajar aksara Sunda kuno dan berbagai kesenian Sunda celempungan, gondang, karindingan, angklung buncis, mamaos, dan degung. Jenis beras yang ditanam dan dikonsumsi di Cireundeu adalah beras pahit / kerikil yang oleh orang lain saya selalu menggunakan ternak parab. Karena selain rasanya yang pahit, rasanya juga tidak enak. Menurut Asep Wardiman, rasanya pahit jika dikonsumsi segera, tetapi jika diolah dengan baik dan bersih, rasanya pahit selain kandungan karbohidratnya tinggi setiap 100 gram mengandung energi 359 kkal, karbohidrat 86,5 gram, protein 1,4 gram, juga kandungan acina yang sangat besar. Dari 25 hektar lahan pertanian yang digunakan, Cireundeu menghasilkan 20 ton / hektar dalam sekali panen. Agar kualitasnya bagus, dipanen pada umur 10 bulan dan tinggi 2,5 m. Begitu juga dalam perawatannya, dari awal penanaman stek harus benar-benar. Paling sering sampai umur 2-4 bulan selalu terserang hama putih hama daun dan busuk bawang merah. Petani dibagi menjadi 10 kelompok yang masing-masing memiliki mesin jahit sendiri untuk membuat poros. Bukan di desa maupun di kota, hingga diolah menjadi berbagai makanan dengan nama berbeda dan cara pengolahan yang berbeda. Begitu pula di Cireundeu, hasil bumi diolah menjadi berbagai kebutuhan pokok sehari-hari, seperti nasi / nasi beras, awug, gegetuk, katimus, comro, misro, jrrd. Pangan menengah dan bahan olahan dari beras yang diproduksi untuk dijual antara lain konstelasi, pati, rangining, keju, kicimpring, kerupuk, dan peuyeum. Biasanya selalu dipasarkan ke wilayah Bandung, Sukabumi, Karawang, dan Jakarta. Konstelasi merupakan makanan pokok masyarakat Cireundeu dari sisa hasil olahan menjadi pati. Setelah dihancurkan dan dibersihkan, kecepatan di mesin dikurangi. Nah, konstelasi adalah konstelasi. Hasil medium parudanna saya bilas air semalaman di bath tub. Tingkat air irigasi telah dihapus, dan pengurangan tersebut dikurangi dalam 1-2 hari. Setelah kering, pati siap dipasarkan. Dari potensi yang diuraikan di atas, Cireundeu telah mendapatkan beberapa penghargaan dari instansi pemerintah, antara lain, Ketahanan Pangan dan Kelompok Tani Tertentu k dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup pada tahun 1964 dan 2007. Penghargaan yang sama dari Dinas Ekonomi dan Koperasi Kota Cimahi, Walikota Cimahi, Badan Ketahanan Pangan Kementerian Perekonomian, Dinas Perindustrian dan Agro Provinsi Jawa Barat, Gubernur Jawa Barat, dan Presiden SBY tahun 2008 dan 2009. Hal tersebut tentunya menjadi contoh bagi desa lain dalam mengembangkan potensi petani dan budayanya, dengan dukungan masyarakat dan pemerintah. Pemerintah hendaknya tidak hanya memperhatikan daerah-daerah yang sudah terlihat potensinya, tetapi mendukung semua daerah yang kurang atau baru muncul potensinya. Bahkan dalam menghadapi krisis pangan yang melanda saya, petani mungkin tidak suka memanjat kari. Jangan hanya menyebut negara agraris saja, sedangkan dengan masyarakatnya banyak yang kelaparan.Ari Andriansyah dari Majalah Cahara 6, 2012 Tugas 21 Ada kata-kata yang tidak dimengerti? Buat catatan dan cari artinya di kamus!2 Apa yang dikenakan oleh mayoritas masyarakat Kampung Cireundeu?3 Apa tujuan diadakannya kegiatan ritual Seren Taun Ngemban Taun Saka’ di Kampung Cireundeu?4 Apa saja seni R&B di Kampung Cireundeu?5 Membuat pemrosesan apa pun oleh kami Cireundeu?6 Dari siapa Desa Cireundeu menerima penghargaan tersebut?

kampung adat cireundeu bahasa sunda